About Me

Foto saya

Rosulullah Saw brsabda

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال " أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة , فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله تعالى
 
Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala".

[Bukhari no. 25, Muslim no. 22] 
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 29 Desember 2012

Menggugat Ketuhanan Yesus

Baik pemeluk agama Kristen maupun Islam, dalam aktivitas pendalaman agama masing-masing, akan menemui isu krusial mengenai figur Isa atau Yesus. Mayoritas orang Kristen menuhankan Yesus, sementara orang Islam menyatakan bahwa ia hanyalah seorang nabi Allah yang terpelihara dari segala kesalahan. Doktrin Trinitas menyatakan bahwa tiga unsur yang berbeda dalam ketuhanan adalah Tuhan.(1) Secara khusus, Yesus dikatakan sebagai 'Tuhan Anak' atau ?Anak Tuhan?. Ketika orang Islam mempertanyakan kejelasan teologi ini, biasanya orang Kristen menjawabnya dengan memberikan penjelasan umum tentang perbedaan antara Islam dan Kristen. Mereka mengatakan bahwa orang Islam tidak memahami Trintas secara utuh, dan bahwa umat Islam telah menuduh orang Kristen sebagai penganut bid'ah.

Dalam usahanya mencari jawaban yang jelas tentang ajaran tersebut, orang Islam selalu bertanya, "Bagaimana mungkin Trinitas itu bisa mewujud ?" Pada umumnya, orang Kristen tetap bersikeras bahwa istilah 'Anak Tuhan' tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Sekalipun 'Anak' dan 'sifat ketuhanan' merupakan atribuat yang penting, seiring dengan itu, keduanya pun saling berbeda. Yang pertama (anak) menggambarkan recipient (penerima) kehidupan, sedangkan yang kedua (sifat ketuhanan) menggambarkan Dia yang tidak membutuhkan kehidupan dari siapa pun. Jadi terlihat adanya dua prinsip yang pada hakikatnya memiliki konsekuensi sendiri-sendiri. Dapat ditegaskan, jika sesuatu menjadi ?Anak?, maka dia bukanlah 'Tuhan' dan Tuhan bukanlah anak seseorang. (watch the Trinity : Explained)

Terhadap masalah tersebut, orang Kristen membela diri dengan berkata, "Masalah ini tidak dapat sepenuhnya kami pahami." Sesungguhnya tanggapan seperti itu merupakan suatu bentuk pengakuan akan lemahnya dasar argumentasi mereka. Pada akhirnya ini memaksa mereka berusaha menciptakan taktik lain untuk menjelaskannya.

Orang Kristen mengeluh bahwa Islam menolak untuk menerima sesuatu yang tidak mereka pahami. Namun, sebenarnya mereka hany berusaha mengalihkan perhatian. Dalam kaitan ini, konsep verifikasi (pembuktian) dan pemahaman bisa dijadikan ilustrasi. Misalnya, suatu reaksi kimi bisa diverifikasi (dibuktikan), akan tetapi atom tidak bisa dipahami dengan cara yang sama. Sejumlah fakta bisa didaftarkan tetapi tidak selalu bisa dijelaskan. Perbedaan inilah yang menjadi kunci sanggahan umat Islam dalam usaha meluruskan penyimpangan.

Permasalahan pokok kita telah mendasar daripada sekadar memecahkan keganjilan doktrin Trinitas. Kita tidak mempertanyakan bagaimana Trinitas itu, tetapi mengapa ia harus ada. Kita mempertanyakan, "Mengapa Yesus harus menjadi Tuhan?" Bisakah kita menguji konsep ini.

Posisi Muslim
Beberapa abad yang lalu, para filosof Eropa secara umum merumuskan bahwa suatu dugaan menjadi terbukti apabila telah memenuhi tuntutan yang dibuat oleh Aristoteles dalam usahanya menemukan kebenaran. Demikian pula, kita menyandarkan alasan pembenaran Trinitas pada apa yang dikatakan orang-orang mengenai Yesus tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Tujuan kita disini hanyalah menggambarkan betapa keimanan Kristen kepada Trinitas hanya didasarkan pada penafsiran Gereja. Sejumlah orang Kristen mengakui hal ini, sedangkan yang lain menyatakan dengan tegas bahwa ajaran Trinitas langsung berasal dari Yesus. "Silahkan mereka menunjukkan bukti-bukti mereka", adalah anjuran yang berulang kali dikemukakan al-Qur'an. Maksudnya, tunjukkan bukti bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Tuhan yang sempurna. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an QS 21:24. jika bukti tersebut ternyata tidak bisa ditunjukkan, berarti penafsiran Gereja diragukan.

Orang Kristen tidak dapat mengelak dari pertanyaan orang Islam mengenai dasar keyakinan mereka. Orang Kristen tidak mempunyai landasan argumentasi untuk mempertahankan posisi yang tidak logis itu, kecuali jika ia cukup puas dengan semata-mata mengandalkan pendapat Gereja dan orang lain. Jika mereka tidak menggali lebih dalam, berarti dialog Islam-Kristen sudah selesai dengan ?kekalahan? dipihak Kristen.

Orang Kristen sering kali menunjukkan bukti-bukti tentang ucapan Yesus berdasarkan bahan-bahan yang tertulis didalam alkitab semata-mata. Sehubungan dengan ini, al-Qur'an menyatakan:

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS Al Maidah 68)

Orang kristen diminta mendukung pernyataan dengan mengambil sumber kitab sucinya. Orang Islam percaya bahwa tidak ada satu ucapan Yesus yang bisa digunakan sebagai bukti yang menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan yang setara dengan Tuhan. Dengan demikiam, isu yang sebenarnya 'bukan Yesus itu Tuhan atau bukan', melainkan 'Manakah ucapan Yesus yang menyatakan bahwa ia setara dengan Tuhan?'

Metodelogi Pembahasan
Teks tertulis Alkitab merujuk kepada ucapan-ucapan Yesus yang sangat sedikit. Dan tidak ada satu pun dari teks asli tersebut yang menyatakan ketuhanannya. Semua pernyataan Yesus tentang hal tersebut bersifat implisit dan memerlukan penafsiran. Kita dihadapkan pada apa yang dikatakan Yesus, lalu harus menafsirkan apa yang dimaksudkan dengan ucapan tersebut. Sehubungan dengan hal ini, metodelogi pembahasan yang akan kita gunakan sangat sederhana.

Bukanlah keinginan atau keharusan bagi kita untuk menafsirkan kembali alkitab, kita hanya melakukan pembuktian bahwa interpretasi Kristen tidak memadai, mendua, bahkan mustahil. Argumentasi kita sebagai berikut:

Sungguhpun arti suatu pernyataan dianggap jelas, ia belum bisa dijadikan bukti bahwa Yesus mengklaim diri mempunyai kedudukan yang setara dengan Tuhan.
Pernyataan-pernyataan lain yang disebutkan masih terbuka terhadap berbagai penafsiran, atau sifatnya mendua.

Masih banyak pernyataan lain yang ditafsirkan tidak sebagaimana mestinya.

Artinya, bukti-bukti tentang ketuhanan Yesus adalah tidak mencukupi, tidak meyakinkan, dan tidak dapat diterima.

Bukti Yang Tidak Memadai
Yesus lahir dalam keadaan suci. Orang Kristen sering menyebut berbagai keajaiban yang ditunjukkannya sebagai bukti ketuhanannya. Jelas, dasar pemikiran ini lemah. Di dalam Alkitab dikisahkan penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu, juga tentang mukjizat Nabi Elisa (Kejadian; 2 Raja-raja 4,5,6). Meskipun kedua nabi tersebut secara umum memiliki kualifikasi yang sama dengan Yesus, tidak ada seorang Kristen pun yang menuhankannya.

Beberapa orang Kristen bertahan pada pandangan bahwa Yesus adalah Tuhan karena kitab-kitab Yahudi telah meramalkan kedatangannya. Namun, pendapat ini pun lemah karena kitab-kitab Yahudi juga disebut-sebut telah meramalkan peranan Yohanes Sang Pembaptis (Maleakhi pasal 4).

Kami kemukakan tiga argumentasi lebih dahulu untuk menunjukkan bahwa klaim Kristen secara sengaja melupakan bagian tertentu kitab suci. Mereka mengetahui fakta kesucian kelahiran Yesus sebagaimana mereka juga mengetahui asal-usul Adam. Mereka memberikan penafsiran yang bersifat ketuhanan pada yang pertama (Yesus), tetapi mengabaikannya pada yang kedua (Adam).

Sekarang kita ajukan pertanyaan. Adakah didalam alkitab pernyataan Yesus yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan ? Didalam teks Alkitab, Yesus menggunakan istilah ?anak manusia?, ?anak Tuhan?, ?mesias?, dan ?saviour? (juru selamat), namun istilah-istilah tersebut juga digunakan untuk merujuk orang-orang selain dia. Misalnya, Yehezkiel disebut sebagai ?anak manusia? (Yehezkiel 3:1). Selain itu, Yesus menyebut para pembawa kedamaian sebagai ?anak-anak Tuhan? (Matius 5:9). Cyrus (Koresy), raja Persia disebut mesias (Yesaya 45:1). Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata ?mesias? yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai ?yang diurapi?. Sedangkan ayat-ayat Alkitab yang merujuk kepada Yesus, mereka terjemahkan dengan ?mesias? atau padanan kata Yunani yakni ?Christ? (Kristus). Dengan cara ini mereka berusaha memberi kesan bahwa hanya ada satu mesias. Untuk orang selain Yesus, mereka menggunakan kata ?saviour? (penolong), seperti yang tercantum dalam 2 Raja-raja 13:5. Disamping itu, orang Kristen sering menunjuk Yesaya pasal 43 sebagai bukti hanya ada satu juru selamat.

Lebih jauh lagi, para penerjemah berusaha mengaburkan fakta bahwa Tuhan adalah satu-satunya penyelamat dalam pengertian bahwa Dia adalah satu-satunya pemberi rezeki dan pelindung kita, meskipun dalam pengertian yang berbeda-beda, tugas-tugas seperti itu bisa juga dikenakan kepada manusia biasa. Dengan bersandar pada pernyataan didalam Yesaya itu, para penerjemah Alkitab mengharapkan kita percaya bahwa Tuhan juga sama dengan juru selamat sehingga Yesus sama dengan Tuhan.

Persekongkolan jahat dalam aktivitas penerjemahan Bible dapat dibuktikan dengan mudah. Alkitab King James Version (KJV) yang terbit tahun 1611 tersebar secara luas. Bandingkan Alkitab tersebut dengan revisi Alkitab yang lebih akhir, misalnya New American Bible. Pada Alkitab KJV, kitab 2 Raja-rajha 13:5 kita dapatkan kata saviour. Namun demkian, kata saviours (bentuk jamak dari saviour ) dapat dijumpai dalam Obaja 21 dan Nehemia 9:27. Kasus ini sekali lagi membuktikan bahwa konotasi ketuhanan yang dikaitkan dengan saviour dipertahankan oleh versi terjemahan Alkitab modern, meskipun melalui penerjemahan yang kurang jujur.

Sekali lagi kita melihat pola pembenaran yang lemah. Ternyata bahwa istilah-istilah yang dikatakan ?mengandung konotasi ketuhanan? itu juga digunakan untuk orang-orang selain Yesus.

Ada pernyataan lain yang dapat disebutkan disini. Dalam Yohanes 8:58 dikatakan "Sebelum Abraham jadi, Aku ada." Seandainya Yesus bermaksud - dengan kata-kata tersebut - mengklaim ia telah hidup sebelum Abraham, apakah itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia adalah Tuhan ? Bahwa Yesus hidup di Surga kemudian turun ke bumi merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, tetapi hal itu tidak cukup untuk menetapkan dia sebagai ?Tuhan yang turun ke bumi?.

Selain itu harus dicatat bahwa teks Alkitab diatas sangat terbuka terhadap berbagai penafsiran. Orang Kristen mungkin tidak menyangka bahwa nabi Yeremia juga telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5). Seharusnya, mereka menafsirkan pernyataan didalam Yeremia sama ketika mereka menafisirkan Yohanes 8:58, yaitu secara harfiah. Namun, mengapa mereka tidak menerapkan pemahaman yang sama ?

Bukti Yang Mendua
Sejumlah sarjana Kristen menegaskan bahwa sudah selayaknya Yesus mendapatkan predikat Tuhan. Dalam Keluaran pasal 3 dikatakan bahwa Tuhan berkata kepada Musa, "I am what I am" (Aku adalah Aku), sebagaimana hampir semua Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkannya dari naskah berbahasa Ibrani. Didalam Yohanes 8:58 Yesus mengatakan, "Before Abraham was, I am" (sebelum Abraham jadi, Aku ada) yang merupakan terjemahan Alkitab bahasa Inggris dari naskah Yunani. Disinilah terlihat kecurangan lainnya. Asal naskah yang pertama (keluaran pasal 3) adalah berbahasa Ibrani, sedangkan yang naskah yang kedua (Yohanes 8:58) adalah berbahasa Yunani.

Semua sabda Yesus, kecuali sedikit diantaranya tercatat dalam bahasa Yunani. Kira-kira sekitar 200 tahun sebelum masa Yesus, orang Yahudi memakai terjemahan Yunani untuk kitab-kitab suci mereka, Septuaginta. Mereka menerjemahkan kata I am (aku) dalam Keluaran dengan Ho On. Sementara itu, sabda Yesus I am didalam Yohanes 8:58 diterjemahkan kedalam bahasa Yunani dengan Ego Eimi. Jika pengarang Yohanes 8:58 bermaksud bertutur kepada orang-orang berbahasa asli Yunani bahwa Yesus identik dengan Tuhan, maka seharusnya ia menggunakan kata-kata yang sudah lazim didalam Septuaginta untuk menyatakannya. Jika tidak, maka maksud pokoknya akan hilang. Kesimpulannya adalah Yohanes 8:58 merupakan bukti yang tidak meyakinkan.

Ada kata Yunani lain yang patut dibicarakan. Didalam Yohanes 10:30 Yesus mengatakan "Aku dan Bapa adalah satu". Bahasa Yunani menerjemahksan satu dengan Hen. Beberapa sarjana Kristen menegaskan bahwa satu-satunya pemahaman yang mungkin dari kata tersebut adalah "satu esensi dalam wujud". Namun, pernyataan itu tidak berdasar. Satu contoh untuk membantahnya sudah cukup. Kata-kata yang sama dipakai oleh Yesus didalam Yohanes 17:11,21,22,23 menunjukkan bahwa dia dan murid-muridnya berada didalam satu kesatuan.

Kalimat lain yang sering dikemukakan oleh kalangan Kristen adalah apa yang dikatakan sebagai pernyataan Yesus didalam kitab Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal" Orang Kristen mengatakan bahwa kata 'tunggal' dalam ayat itu secara khusus mengacu kepada Yesus, bukan 'anak-anak Tuhan' yang lain. Ini juga menunjukkan sikap mereka yang tidak konsisten, sebab kata 'tunggal' juga terdapat dalam Ibrani 11:17, padahal ia mengacu kepada Ishak. Sedangkan Alkitab mencatat kakaknya Ishak bernama Ismael hidup lebih lama dari ayahnya (Kejadian 25:9). Dengan demikian Ishak tidak pernah secara tegas mengatakan dirinya sebagai anak tunggal Abraham. Sadar akan kejanggalan ini, Sarjana Kristen tidak menafsirkan kata tersebut secara harfiah. Namun, mengapa hal itu tidak mereka terapkan juga pada Yohanes 3:16 ? Sekali lagi sikap mendua ini membuktikan bahwa Yohanes 3:!6 adalah bukti yang tidak meyakinkan.

Diakui atau tidak, istilah 'Bapa' yang dipakai Yesus ketika ia berbicara dengan Tuhan juga menimbulkan kontroversi. Tetapi pada kesempatan ini, kami sekadar ingin menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut oleh Yesus bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan adalah Bapa dari Yesus.

Semua orang Kristen memakai kata 'Bapa' ketika menyebut Tuhan. Bahkan orang Yahudi pun memakai istilah itu (Yohanes 8:41). Selain itu, Yesus berkata, "Iblislah yang menjadi Bapa mu ?" (Yohanes 8:44). Tentu saja yang dimaksudkan disini bukanlah pengertian 'Bapa' secara literal.

Sarjana Kristen lain menggunakan Markus 14:36 (yang didalamnya Yesus menggunakan kata Abba untuk Bapa) sebagai landasan argumentasi. Menurut mereka, penggunaan kata Abba menunjukkan adanya hubungan yang sangat unik antara Yesus dan Tuhan, yaitu antara Tuhan Anak dan Tuhan Bapa. Namun argumentasi ini sangat lemah karena Roma 8:15 dan Galatia 4:6 menyebutkan bahwa setiap orang kristen dianjurkan memakai istilah Abba jika menyebut Tuhan.

Bukti Yang Lemah
Dalam Yohanes 20:28 disebutkan bahwa Thomas mengatakan, "My Lord and my God" (Tuanku dan Tuhanku). Orang Kristen bersikukuh bahwa Tomas menyebut Yesus dengan sebutan itu. Orang Islam tidak keberatan terhadap istilah lord karena kata tersebut mempunyai arti kata 'tuan'.(3) Sara juga memanggil suaminya dengan sebutan 'tuan' (1 Petrus 3:6). Pendapat yang menyatakan bahwa Tomas menyebut Yesus secara harfiah sebagai 'Tuhan' adalah masalah lain.

Alkitab juga menunjukkan bahwa Yohanes 10:34 mencatat bahwa Yesus menyebut orang lain sebagai Allah, selain itu dalam Mazmur 82:6 sang pengarang menyebut orang lain sebagai Allah. Dalam 1 Korintus pasal 8, Paulus memberikan aturan baru dengan mengatakan bahwa memang ada banyak tuan dan tuhan, namun bagi kita hanya ada satu Tuhan ( theos ) saja yaitu Bapa (pater) ? dan satu tuan ( kurios ) yaitu Yesus Kristus.

Menurut doktrin Trinitas, perbedaan antara Bapa dan Anak adalah esensial. Namun prinsip ini dikaburkan oleh Yohanes 14:9. Disini Yesus berkata kepada Filipus sebagai berikut, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Pernyataan ini mengandung doktrin yang sulit diterima, yaitu Yesus adalah Bapa. Para penafsir mengatakan bahwa 'Bapa' ( Pater ) adalah sinonim 'Tuhan' ( Theos ). Kita bisa memahami maksud ucapan Yesus sebagai "melihat dia adalah sama dengan melihat Tuhan karena ia adalah Tuhan". Padahal didalam Yohanes 5:37 terdapat pernyataan sebaliknya. Dalam ayat ini, Yesus berkata mengenai Bapa kepada orang banyak, "kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat."

Bukti Yang Menyeluruh
Sering diakui bahwa ayat-ayat yang menyangkut individu tidak memadai, tidak meyakinkan, dan tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk membenarkan ketuhanan Yesus. Namun demikian, suatu ayat dapat dijadikan alat pembuktian jika ia digabngkan dengan ayat lainnya. Ini sama halnya dengan memperlihatkan kesalahan proses berpikir. Seharusnya, setiap ayat dapat membuktikan kebenaran tentang suatu hal, dan kalu tidak, ayat tersebut harus digugurkan. Kita harus mengetahui dengan tepat, apa yang ditunjukkan oleh sebuah ayat dan mengapa demikian adanya.

Telah dikemukakan bahwa penafsiran Kristen dan keterangan tradisional terhadap kitab suci sungguh tidak masuk akal. Alasan dan kesimpulan tidak ditetapkan secara jelas. Demikian pula, apakah yang dimaksud dengan ?penebusan dosa manusia? masih belum jelas sampai sekarang.

Orang Kristen bersandar pada Yohanes 5:18 sebagai berikut, "karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-nya dengan Allah." Namun lagi-lagi orang Kristen melewatkan ayat-ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa Yesus menundukkan dirinya dihadapan Tuhan dan menjelaskan posisinya dihadapan Tuhan.

Cukup mengherankan bahwa Gereja Kristen membuat cerita yang membingungkan. Kitab-kitab Yahudi membuat referensi tentang mesias, lalu Gereja mengatakan bahwa mesias itu baru berarti jika ia adalah Tuhan yang mewujud. Ketika Yesus berkata bahwa dirinya adalah mesias, ia dianggap melampaui batas, karena menurut kitab-kitab Yahudi, tidak seorang pun bisa menjadi Tuhan.

Dalam Markus pasal 2, Yesus berkata pada seseorang, "Hai anakku, dosamu sudah diampuni." Beberapa orang ahli Taurat yang hadir disitu merasa kaget dan bertanya-tanya dalam hati, "Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?" Sementara itu dalam Yohanes 12:49 Yesus menafikkan inisiatif pribadi dengan berkata, "Sebab aku berkata berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dia lah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan." Lihat juga Yohanes 8:40 dan Yohanes 14:10.

Penutup
Kita tidak menggunakan Alkitab semata-mata untuk memenuhi keinginan kita. Ayat-ayatnya kita kutip secara jujur dan apa adanya. Maksud kita hanyalah menunjukkan cacat yang terkandung dalam keyakinan Kristen bahwa - Yesus mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. - Jika kita mengolah bukti-bukti yang mereka ajukan untuk memperkuat pendirian tersebut, kita akan menemukan betapa bukti-bukti yang diajukan Kristen itu bermutu rendah, lemah, dan hanya tampak luarnya yang bagus.

Kita telah mengutip sejumlah ayat Alkitab yang paling sering digunakan dan menjelaskannya dengan gamblang kepada orang Kristen, namun mereka tidak mau menerimanya. Bahkan seandainya ayat-ayat lain kita ajarkan pula, mereka tetap akan menolak segala argumetasi kita, lalu mengajukan bukti-bukti untuk menguatkan pandangan mereka. Jika orang Kristen membangun alasan atas dasar hal-hal selain sabda Yesus, mereka akan mengulangi apa yang menjadi pokok keberatan kita. Yaitu, mereka - disadari atau tidak - justru menunjukkan bahwa pokok ajaran agama Kristen didasarkan pada apa yang dikatakan orang tentang Yesus, bukan apa kata Yesus.

Sekali lagi kita bertanya kepada orang kristen, Mengapa Yesus harus dipandang sebagai Tuhan?? Kita mempersoalkan mengapa orang Kristen mau mempercayai hal itu.

Orang kristen akan menjawab bahwa Yesus adalah Tuhan karena kematiannya merupakan penebusan bagi dosa-dosa manusia. Dalam pola penyelamatan manusia menurut Kristen, dipercayai bahwa kematian yang suci adalah penting agar umat manusia diselamatkan. Tanyakan kepada mereka, mengapa kematian orang biasa tidak mencukupi ? Orang Kristen akan menjawab karena semua manusia tidak sempurna. Tanyakan mengapa mereka tidak sempurna ? Akan dijawab bahwa orang biasa itu adalah warisan dari ayah kita, sedangkan Yesus tidak memiliki ayah. Dengan pola pemahaman tersebut, Yesus tampil sebagai 'korban suci' yang tidak bercela.

Orang Kristen menambahkan, si penebus haruslah Tuhan agar ia dapat diterima oleh orang-orang yang ditebusnya. Kita bertanya, "Apakah Tuhan mati ?" Mereka akan cepat-cepat menjawab, "Tidak, hanya manusia Yesus yang mati." Yesus dikatakan sebagai manusia Tuhan, dan yang mengalami kematian adalah komponen kemanusiaannya. Dengan demikian, sebenarnya mereka mengakui bahwa kematian manusia itu dapat menebus dosa.

[1] Satu-satunya ayat yang memuat doktrin Trinitas di Bible yakni 1 Yohanes 5:7 sudah direvisi.

1 Yohanes 5:7 - King James Version (KJV)
"For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one."

Bandingkan dengan revisi Bible terakhir dalam Bible English Standard Version (ESV) untuk ayat yang sama 1 Yohanes 5:7
http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=1+John+5

[2] Yohanes 3:16 sekarang telah terbukti palsu dan statusnya hanya menjadi catatan kaki dalam revisi Bible terkini. Lihat http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=John+3

[3] Yohanes 20:28 interlinear english-greek: "And (kai) Thomas (Thomas) answered (apokrinomai) and (kai) said (epo) unto him (autos), My (mou) Lord (kurios) and My (mou) God (Theos)." Kata ?kurios? dalam bahasa Yunani artinya adalah ?Tuan? dan bukan ?Tuhan?. Jadi ?kurios? lebih tepatnya diterjemahkan ?sir?. Karena ?Sir? artinya adalah ?Tuan?. Sedangkan ?Lord? artinya bisa ?Tuan? bisa pula ?Tuhan?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar